Quotessence
Home / Quotes / I Quotes

I Quotes

Browse famous quotes beginning with I. This page is a child index of the full Popular Quotes A-Z directory.

All I Quotes

“Ik wist dat volwassen mensen dit soort gesprekken voerden, dit soort gesprekken hoorden te voeren, dat je moest praten en je gevoelens moest uiten en naar de gevoelens van de ander moest luisteren en dat je in therapie moest gaan en aan jezelf moest werken en nu wist ik ook dat wie je bent iets anders hoort te zijn dan hoe je bent.”

“Ik zat op mijn handen en keek door het raam naar de mist, die uit het weiland achter de boomgaard kwam opzetten en voortdurend dikker werd. Na een poosje kon ik alleen nog de boom zien die het dichtst bij het raam stond: het was een jonge hoogstam, hij had nog nooit alleen in de mist gestaan en het zweet brak hem uit. Ik had medelijden met hem en besloot ook hèm een naam te geven, Juliette. Een meisjesnaam, waarom niet, hij zag er zo vrouwelijk uit, zo tenger, zo aandoenlijk hulpeloos en eenzaam met zijn veel te lage kalkring die aan een afgezakte armband deed denken. Het was een idee van Ingrid, om de bomen een naam te geven. Zij kon erg goed met ze opschieten en ik heb dikwijls het gevoel gehad, dat Hector beschaamd naar haar luisterde als ze tegen hem zei: Hector, je stelt me teleur, volgend jaar moet je méér geven hoor, of dat Lucien zachtjes stond te hijgen als ze bij hem neerhurkte en zei: wat heb jij daar een lelijke waterloot, Lucien, daar zullen we je eens gauw van afhelpen.”

“Ik zeg aan Iedereen, als je de Koran ergens kunt vinden, Koop hem en lees hem, dan weet u wat uw lot zal zijn, als kafir, als ongelovige, als zij het ooit voor het zeggen krijgen! Besef dat in negentien vier, vijf zesendertig toen het nationaal socialisme nog niet aan de macht was men ook, al perfect kon weten wat Hitler en zijn NSDAP zou doen, je moest alleen maar Mein Kampf lezen, het stond er allemaal in... Wel het staat ook in de Koran, dus je moet de Koran niet verbieden, je moet de Koran niet verscheuren, je moet de Koran niet verbranden, je moet hem vooral lezen!”

“Ik zou wat vaker de deur uit moeten, dacht hij bij zichzelf - het was voor het eerst in minstens tien jaar dat hij een boekhandel bezocht. De tempels van stilte die zich herinnerde van vroeger waren blijkbaar verdwenen. Boekhandels waren cafés geworden. En cafés? Cafés waren kantoren geworden, in cafés heerste de rust van de werkvloer, het enige wat je er hoorde was het zachte ruisen van tientallen laptops. Wat er ten slotte van kantoren was geworden, daar kon Hemel alleen maar naar raden. Misschien waren ze wel omgetoverd in sportscholen, of sauna's.”

“Ikan yang bersedih memuntahkan kegelapan. Saya melihat Beliau mendekati gadis itu dan pelan-pelan membawanya ke dalam saya. Anak itu menapakkan kakinya, tapi hanya sedikit sekali yang ia ceritakan pada saya. Hanya ingatan terakhirnya: ditampar oleh ibunya, melarikan diri ke taman, bermainan ayunan berhari-hari sampai akhirnya dia berayun terlalu jauh dan terlempar ke luar angkasa. Saya tidak pernah tahu kalau luar angkasa dipenuhi anak-anak kecil yang terlempar dari ayunan. Tapi, kesedihan gadis ini begitu dalam. Begitu dalam, hingga matanya tak bisa melihat apa pun selain kegelapan. Dan, begitu gelap, hingga cahaya apa pun tidak bisa menembus selubung hitam yang melingkupi dirinya. Dan semua perasaan sedih itu tidak bisa keluar lagi; hanya semakin banyak luka yang masuk, tapi tidak bisa pergi, terjebak selamanya di dalam. Dan mereka terlempar pergi ke rongga angkasa, sebelum akhirnya, jika Beliau tidak datang menjemput, mereka sendiri akan menjadi rongga angkasa; menelan tanpa pernah memuntahkan, menolak semua jenis cahaya karena tak bisa lagi memercayai kebahagiaan.”

“IKATAN DUA KELANA: HANG TUAH — HANG JEBAT Fragmen I — Dermaga: Air, Darah, Dua Takdir Di dermaga, papan lapuk menulis namanya dengan butiran garam, mengubur sumpah dan huruf-huruf usang yang dikenang para pelaut. Pandangan membeku: tali yang memeluk tiang, bekas sol sepatu, puing janji hampa di bibir kayu. Ada dua tubuh di sini, tegak di perbatasan air dan darat: satu mengikat layar ke Takdir Raja, satu menengadah ke Laut Lepas— mereka berbicara tanpa suara; kata-kata hanyalah air asin yang membakar di ujung kuku. “Apakah engkau Sahabat Sejati?” tanya yang satu, dari cengkeraman dermaga. “Apakah engkau Pengkhianat Busuk?” jawab yang lain, dari balik gelombang amarah. Mereka adalah dua nama yang terukir pada satu tulang rusuk Adam; Tuah dan Jebat, dua bayangan kosmik yang saling menunggu ditelan arus fatalitas. Fragmen II — Pasar & Laut: Jejak Rempah, Harga Nyawa Pasar bernafas di bawah langit emas perdagangan dan debu rempah— adas, kayu manis, cengkih, lada: urat nadi Malaka diikat kecil dengan tali kasar. Pedagang menulis perjanjian darah di atas daun lontar; nama Sultan tertanda dengan Cap Bintang Tujuh yang mengontrol pelayaran nasib. Di antara gerimis untung dan rugi, Suara Undang-Undang Laut merendah kejam: “Setiap layar memberi urusan upeti, tiap sumpah memiliki harga diri.” Jebat menyentuh peta—garis jalur, titik-titik pelabuhan yang seperti luka yang menganga. Tuah memandang Merchant Asing yang menawar masa depan kedaulatan negeri. Lautan modal menelan kata-kata mereka hingga retak, kembali meludahkan jejak-jejak yang jadi alasan mutlak istana bergerak. Fragmen III — Istana Retak: Norma, Nadi, Kematian Batin Di dalam istana, kain Songket berwarna darah pagi, pedang berbisik di kamar yang dindingnya bergetar oleh perintah dingin. Sumpah bukan dikalungkan, tapi dijeratkan di leher seperti tali gantungan. “Kesetiaan adalah batu nisan nurani,” ujar ruang itu, suara tanpa wajah. “Keberanian adalah pengkhianatan yang tak suci,” balas udara yang bergetar. Tuah menekan telapak pada Taming Sari— sebuah benda yang tidak hanya terbuat dari besi, tapi dari kewajiban mutlak Sang Raja. Jebat melihat wajah rakyat yang menahan napas di bawah bayang-bayang tiang hukuman istana. Dan ketika keris menuntun Tuah pada nadi sahabatnya, bukan hanya daging yang pecah di lantai marmer: yang terburai adalah perjanjian panjang antara kedaulatan tiran dan martabat manusia. Fragmen IV — Kabut Ledang & Hening Penghakiman Kabut Ledang bukan embun, ia adalah air mata sejarah yang menutup mata kota. Hanya dingin yang mengingatkan bahwa sesuatu yang besar telah mati. Di antara kabut, dua wajah menyatu di pantulan air—pasang aurut takdir yang sama, namun dua mata yang berlumur darah. Tuhan—jika ada—adalah Kilasan Sunyi di sela-sela kabut, bukan penghakim, tapi Saksi Agung yang memilih Bisu Abadi. Tuah dan Jebat berdiri, tubuh mereka saling menghantui seperti dua kapal terkutuk yang saling bertabrakan di laut malam. Tidak ada Kemenangan Layak, tidak ada Pengampunan Utuh. Hanya Arus Besar: sejarah yang memuntahkan segala yang ditelannya. Kita—penonton, penggugat, penimbang—menyaksikan bagaimana manusia sejati berdiri ketika semua sumpah Telah dinyatakan hampa. Di akhir pertempuran, Laut menelan kata “Benar” dan “Salah” dengan tenang. Yang tersisa hanyalah nama—berulang, retak, dan dingin—sebuah perintah: “Bangunlah! Engkau boleh memilih untuk tak lagi menjadi bayangan. Jadilah Cahaya yang menerangi segalanya!” Desember 2025”

“Ike Ryan had a theory about making a girl become part of an orgy. You make her do it with you, then with a friend while you watch, then with another girl—and by then you've cut her down to size. Once she's gone along with that scene, she can't play games—none of that "send me flowers" jazz. You've reduced her to what every woman is, once you've stripped off the fancy manners: a broad.”

“Ikiwa huna pesa na una mke na watoto kwa mfano, mke wako (wanawake walio wengi) hatakuona wa maana kwa sababu ya ustawi wa maisha ya familia yake. Ikiwa una mwanamke asiyekuwa na busara au hekima ya kutosha, au mwanamke ambaye akili zake zimefyatuka kidogo, atakusaliti kutafuta bwana au mtu mwenye maana. Kama huna pesa huna maana kwa mwanamke.”

“Il 30 giugno 2020 la prestigiosa rivista scientifica ha pubblicato un articolo in cui vengono presentati i risultati dell'indagine epidemiologica svolta nel piccolo comune. Il dato più impressionante è che sui novanta positivi rintracciati, il 42,5 per cento si sono rivelati asintomatici, continuando però a mantenere una carica infettiva importante.”

“Il arrive un âge où ils ne sont plus séduisants, ni «en forme», comme on dit. Ils ne peuvent plus boire et ils pensent encore aux femmes; seulement ils sont obligés de les payer, d'accepter des quantités de petites compromissions pour échapper à leur solitude. Ils sont bernés, malheureux. C'est ce moment qu'ils choisissent pour devenir sentimentaux et exigeants… J'en ai vu beaucoup devenir ainsi des sortes d'épaves. "A time comes when they are no longer attractive or in good form. They can't drink any more, and they still hanker after women, only then they have to pay and make compromises in order to escape from their loneliness: they have become just figures of fun. They grow sentimental and hard to please. I have seen many who have gone the same way.”

“Il avait lu des masses de livres là-dessus, tout récement celui d'Hannah Arendt sur le procès d'Eichmann à Jérusalem, il savait que le jour où il écrirait sérieusement, ce serait à ce sujet. Le nazisme, tous les habitants de la seconde moitié du XXe siècle doivent se débrouiller avec, vivre avec l'idée que c'est arrivé, comme lui devait vivre avec la mort de sa soeur Jane. On peut ne pas y penser, n'empêche que c'est là, et il faudrait que ce soit aussi dans son livre. Rien de plus éloigné du tao que le nazisme. Les Japonais, pourtant, qui vénèrent le tao, avaient été alliés aux nazis. S'ils l'avaient emporté... Un moment, il laissa miroiter cette idée. On avait déjà fait des livres de ce genre, il en avait lu un d'après lequel le Sud avait gagné la guerre de Sécession. Il se demanda ce que serait un monde issu de la victoire de l'Axe, quinze ans plus tòt. Qui dirigerait le Reich ? Hitler toujours l'un de ses lieutenants ? Est-ce que cela changerait quelque chose que ce soit Bormann, Himmler, Goering ou Baldur von Schirach? Est-ce que cela changerait quelque chose pour lui, habitant de Point Reyes, Marin County ? Et quoi?”

“Il avait pris le temps de l’analyser sous tous les angles et il aurait pu la reconnaître parmi des milliers de personnes. Il ne pouvait pas nier qu’il la trouvait intrigante… Et il n’était pas du genre à refouler ses fantasmes. Il savait que Lee le détestait, mais lui, il ne l’avait pas oubliée. Comment pourrait-il l’oublier ? Depuis le tournoi, il n’avait jamais oublié la flamme qu’il avait vue dans ses yeux au moment de sa défaite. Il l’avait écrasée et il n’éprouvait pas une once de culpabilité… Elle le méritait, ce n’était qu’une petite vantarde. Ce désir qu’il éprouvait pour elle aurait dû se dissiper depuis autant d’années, et pourtant, il brûlait toujours en lui. Il était même devenu plus intense, plus fou. Il se réjouissait de pouvoir la traquer, il adorait jouer.”