Quotessence
Home / Quotes / P Quotes

P Quotes

Browse famous quotes beginning with P. This page is a child index of the full Popular Quotes A-Z directory.

All P Quotes

“Puerto Ricans are Americans. We've been American citizens since 1917. We fought the same battles, made the same sacrifices. We've lost our land in the same way that Native Americans lost their land, and we've been the subject of discrimination and racism in the same way that African Americans have. We've suffered the full spectrum of oppression, and yet we've been off the map 4,000 miles away so we haven't even been able to argue our case.”

“Puerto Ricans don't like to talk about racism or admit that it exists among Puerto Ricans. Boricuas talk of an island free from racism, or they say that the amerikkkans brought it. Although the amerikkkans did make it worse, racism in Puerto Rico began with the Spanish. According to them, one drop of white blood meant you were white and better than your Black compatriot. Acceptance was given according to the "degree of whiteness." (From 1970)”

“Puerto Rico is a government that is spending money that it doesn't have. What's coming in and what's going out don't match. That is, what they are receiving in taxes is not sufficient to cover the spending that they are taking on. And any entity that does that, whether a family, a business, a government, is going to go broke and bankrupt. They are asking to be given the right to declare bankruptcy, which I think should be an option, as a last resort, if there is no other resource.”

“Puerto Rico is an island separated by an ocean, a language, a culture. All of that put it in a position where it's like, "What happens in Vegas stays in Vegas," but what happened in Puerto Rico never happened at all. It's not like there was a decades-long conspiracy. It's just the aggregation of all these historical forces made it difficult for this information to exist in one place.”

“Pues bien, cuando alguien se da a la música y deja que le inunde el alma derramando por sus oídos, como por un canal, aquellas dulces, suaves y lastimeras armonías de que hablábamos hace poco y pasa su vida entera entre gorjeos y goces musicales, esta persona comienza por templar, como el fuego al hierro, la fogosidad que pueda albergar su espíritu y hacerla útil de dura e inservible. Pero si persiste y no cesa de entregarse a su hechizo, entonces ya no hará otra cosa que liquidar y ablandar ésta su fogosidad hasta que, derretida ya por completo, cortados, por así decirlo, los tendones del alma, la persona se transforma en un «feble guerrero»”

“Puesto que Dios nos concede tiempo para disponer de nuestro desalojo, preparémonos, hagamos el equipaje, despidámonos a tiempo de la compañía, desembaracémonos de esas violentas ataduras que nos retienen en otro sitio y nos alejan de nosotros mismos. Hay que desatar esos lazos tan fuertes, y a partir de ahora amar esto y aquello, pero no casarse sino consigo mismo. Es decir: que el resto nos pertenezca, pero no unido y adherido de tal manera que no podamos desprendernos de ellos sin desollarnos y arrancarnos a la vez alguna parte nuestra. La cosa más importante del mundo es saber ser para uno mismo.”

“Puffer fish inflate into a ball when they feel threatened as a warning to predators. The males work endlessly on designing their territories to attract a mate. Burrowing diligently with their fins, reorganizing shells. They work twenty-four hours and many many days without taking a break. The males have many mates and reign over multiple female territories. Once the female is in his territory and tries to leave he will bite her. The female is only allowed a visitor if the visiting fish mutes its bright blue, yellow, and orange spots so that the king puffer fish doesn't feel threatened. You get what I'm saying, Ana?”

“Pug said: “I’m trying to think of the best way of knocking you off.” “The Chinese do it with rats,” I said. “They let ‘em eat the victim.” “Where am I going to get the rats?” “Well,” I said, “there’re three in the car now.” I don’t know which one hit me; Pug or the guy with the garlic breath. It was the barrel of a pistol and it cooled me for a couple of minutes. When I came to we had stopped by a small shack. I was alone with the guy on my left.”

“Puisi yang Menolak Jadi Puisi Aku menuliskan ini dengan tangan yang tidak lagi menginginkan bahasa. Bahkan sebelum huruf pertama jatuh, aku tahu: segala yang mencoba kusebut “puisi” hanyalah cara lain untuk menghindari diriku sendiri. Jadi biarlah malam ini aku berhenti menjadi apa yang aku inginkan. Biarlah aku menuliskan sesuatu yang tidak ingin memiliki irama, tidak ingin dipuji, tidak ingin dikenang. Sebab apa gunanya metafora jika seluruh luka telah menolak dibungkus oleh keindahan? Apa gunanya diksi jika ada kebenaran yang terlalu telanjang untuk diberi pakaian? Aku menghapus semua perumpamaan. Aku menghapus semua simbol. Aku menghapus semua milikku yang pernah tampak seperti seni. Biarkan yang tersisa hanya satu hal: aku yang tidak sanggup berbohong lagi. Ada hari-hari ketika aku ingin mengubur seluruh karyaku, membuangnya ke dalam sumur paling gelap tempat suara tidak kembali dan renungan pun mati tanpa gema. Sebab setiap kali aku menulis, aku merasa sedang mencurangi hidup. Aku membuat jejak-jejak palsu, mengunggulkan penderitaan seolah-olah itu adalah mahkota yang paling berharga. Padahal kebenarannya sederhana dan kasar: aku menulis karena aku tidak tahu cara lain untuk menghentikan diriku dari kehancuran. Dan hari ini, bahkan itu pun tidak berhasil. Kalau saja aku bisa, aku ingin menanggalkan semua bentuk. Tidak ada baris-baris. Tidak ada jeda. Tidak ada frasa yang memikat. Hanya ruhku menatap tubuhku sendiri tanpa belas kasihan. Aku ingin hadir sebagai retakan yang jujur, bukan sebagai kalimat yang indah. Aku ingin hadir sebagai kegagalan, bukan sebagai karya yang menaklukkan. Aku ingin hadir sebagai manusia, bukan penyair yang memalsukan kemanusiaan. Jadi inilah aku: duduk di antara puing-puing huruf, memegang sunyi seperti memegang batu panas yang melepuhkan tanganku. Aku menolak estetika sebagaimana tubuh menolak racun. Aku menolak menjadi penyair karena malam ini aku hanya ingin menjadi seseorang yang berhenti menghindari dirinya sendiri. Sebab pada akhirnya, yang kutakuti bukanlah ketiadaan puisi— melainkan kemungkinan bahwa puisi yang kutulis selama ini tidak pernah benar-benar menyentuh siapa pun, bahkan aku sendiri. Dan jika demikian, maka biarlah karya ini menjadi perlawanan terakhirku: Puisi yang ingin menjadi luka, bukan bahasa. Puisi yang ingin menjadi dada yang sesak, bukan frasa yang tanpa cela. Puisi yang ingin menjadi wajah yang kubenci, bukan topeng yang kukagumi. Puisi yang menolak menikamkan kecantikan, dan memilih menyingkap kebenaran yang kasar. Puisi yang menolak menjadi puisi, karena barangkali— ini satu-satunya cara aku bisa kembali menjadi manusia. November 2025”

“PUISI YANG MENYALAK DI DALAM KUIL Aku datang sebagai suara yang tidak diundang, mengganggu arak-arakan para penyair suci yang mengenakan jubah kaftan fedora yang melangkah dengan medali penghargaan bergantung di lehernya. Mereka menyanyi tentang keindahan seperti imam-imam tua yang lupa bahwa dunia pertama-tama adalah luka. Aku bukan bagian dari mereka. Aku tidak ingin menjadi bagian dari mereka. Aku adalah PUISI yang berteriak di ambang pintu, yang menolak sujud pada altar klasik, yang tidak mau dicatat dalam sejarah karena sejarah terlalu sering memilih untuk memaafkan penguasa dan melupakan rakyat jelata yang mati terkubur. Aku memanggil Rilke— bukan rilkian yang halus dan haus pujian tapi Rilke yang meradang dalam keterasingan, yang bertanya kepada malam: “Haruskah aku meronta ketika kata-kata tak lagi sanggup menampungku?” Dan malam menjawab dengan kehampaan tanpa tepi. Aku melawan kehampaan itu dengan gigiku sendiri. Aku menggigit batas-batas puisi yang dibangun para kurator yang merasa tinggi yang menentukan mana yang layak disebut puisi, mana yang harus dibuang ke kolong rak antologi. Aku menolak semuanya. Sebab aku lahir bukan dari estetika, melainkan dari ketegangan di dada: napas yang hampir patah, lutut yang hampir rubuh, kesadaran yang hampir retak. Para akademisi akan mencoba mengukurku dengan teori yang rapuh, menganalisaku seperti fosil masa lalu. membelahku dengan mata pisau kritik yang tidak pernah menyentuh penderitaan nyata. Aku menatap mereka— dan menertawakannya sebagai kekosongan yang menggelikan. Aku tidak ingin jadi kanon. Aku tidak ingin jadi trofi kebanggaan. Aku tidak ingin berdiri di podium penghargaan. Yang kuinginkan hanya satu: menjadi kebenaran telanjang yang membuat siapa pun yang membacanya merasakan getaran pertama kelahiran manusia— ketakutan, keterkejutan, kesunyian yang menganga. Aku adalah PUISI, bukan yang kalian rayakan, melainkan yang kalian hindari. Aku adalah puisi yang menolak dipoles, yang menolak dirapikan, yang menolak dimandikan dalam metafora indah agar tampak seperti karya seni. Aku tidak ingin indah. Aku hanya ingin benar. Dan kebenaran itu ganas, tajam, kejam: biar manusia menulis bukan untuk menjadi abadi, tetapi untuk menyelamatkan sisa-sisa peradaban yang hampir tenggelam oleh pengapnya kehidupan. Jadi aku berdiri di sini— sebagai catatan perlawanan terhadap segala yang ingin menjinakkanku. Jangan sebut aku puisi jika itu berarti tunduk. Sebut aku PUISI yang kembali ke akar pertama: jeritan batin, teriakan luka pengakuan yang tak bisa dibohongi, suara yang terbit dari jurang dalam diri manusia. Jika dunia menolakku, itu berarti aku hidup. Jika sejarah menyingkirkanku, itu berarti aku benar. Aku adalah PUISI yang tidak meminta tempat— aku akan merebutnya. Sebab siapa yang layak adalah ia yang paling jujur pada diri sendiri. November 2025”