D Quotes
Browse famous quotes beginning with D. This page is a child index of the full Popular Quotes A-Z directory.
“Di porke't talo ka ngayon, olats ka na habambuhay, Magtiwala ka lang sa kakayahan mo, Papabor din sayo ang panahon at pagkakataon na nakalaan para sa panalo mo.”
“Di quanto tempo si dispone
per riconoscere un amore
che sa di eventuale?
Così
giusto per sapere
se sia meglio l'amore
o i tentativi prima”
Source: Lettere d'amore nel frigo: 77 poesie
“Di quei dieci comandamenti – volontà di tregua e pace perpetua – io non ne ho rispettato nessuno, ho avuto mesi e anni per mettermi in pari, recuperare gli errori commessi, ma ho procrastinato gli eventi, ogni giorno poteva essere quello dopo, ogni tramonto lo avremmo potuto guardare la sera seguente, ogni perdono poteva restare implicito, nessuno avrebbe prosciugato il lago o avrebbe sradicato il molo, e il coniglio era morto da tempo e tale sarebbe rimasto: morto e sepolto nel giardino sul retro, tra le lattughe e qualche melanzana.
[...]non le ho narrato della mia scarsa autostima, la coriacea voglia di offendere e affondare, come se ognuno fosse un pesce e io la mano stretta intorno al suo corpo liscio dentro la grande fontana che è una vita qualunque.
Lei ha sempre custodito, nella sua memoria emotiva, la me fantastica e valorosa, la me affabile e sorridente, la me che è vittima e non fa pezzi dei corpi altrui, quella che canta a gola aperta in macchina e legge i libri al fresco dell’ombra, una me fugace, durata il tempo di una stagione, una immagine evanescente, un viso sott’acqua durante una gara di apnee.”
Source: L'acqua del lago non è mai dolce
“Di rabu yang biru
Puisiku layu
Mengenang matamu
Yang sayu menatapku”
“Di realita mekanika kuantum, tak ada yang benar, karena tak ada yang salah. Semua adalah probabilitas dalam ketidakpastian.
Jika kamu belum bisa mencerna konsep itu, maka dirimu masih terkurung di penjara mekanika klasik.”
Source: Master of Stupidity
“Di rumah susun ini ada begitu banyak jenis pecandu. Mereka tidak bisa hidup tanpa benda yang dicandunya. Sebenarnya, mereka tidak pernah benar-benar hidup. Manusia memang sebodoh itu. Selemah itu.”
Source: Februari: Ecstasy
“Di satu masa, rasa itu pernah ada. Hanya saja, kita terlambat untuk menyadarinya.”
Source: Time for Love
“Di satu sisi
Aku semestinya kesepian
Sudah sepantasnya gila
Memamah kesendirian
Di lain sisi
Aku punya kamu”
Source: Nocturnal Journal
“Di sekeliling kami, langit yang sudah semakin gelap. Di celah-celahnya, tersembunyi maut yang sedang menyeringai taring, berkuku panjang tajam.
(Arah Yang Tidak Pernah Ada)”
Source: Tidakkah Kita Berada Di Sana?
“Di sekitar kita ada kawan yang selalu hadir sebagai pahlawan.”
Source: Edensor
“Di sekolah, anak-anak belajar bahasa Indonesia, tetapi mereka tak pernah diajar berpidato, berdebat, menulis puisi tentang alam ataupun reportase tentang kehidupan. Mereka cuma disuruh menghafal : menghafal apa itu bunyi diftong, menghafal definisi tata bahasa, menghafal nama-nama penyair yang sajaknya tak pernah mereka baca.”
Source: CATATAN PINGGIR 3
“Di sekolahku ada peraturan anak-anak tidak boleh membawa buku kesukaan mereka. Alasannya, biar anak-anak belajar. Memangnya membaca buku itu tidak belajar?”
Source: Aku Radio bagi Mamaku
“Di setiap masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara, tapi tidak gampang untuk diam. Kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya ada mendung, atau hujan, atau kebisuan, mungkin ketidakacuhan. Semuanya teka-teki.”
Source: Catatan Pinggir 1
“Di sisi Islam maka ilmu, jikalau tidak bersabit dengan mengenal diri, mematuhi ajaran agama, menyempurnakan masharakat, membimbing negara, menyatakan hikmah, menegakkan keadilan, mengukuhkan akhlak dan budipekerti - hanyalah sia-sia belaka; di sisi Islam seseorang itu tiada dapat dikatakan berilmu, atau alim, jikalau tiada ia membayangkan dalam dirinya kesan ilmu itu pada seluruh segi kehidupannya sebagaimana dijelaskan di atas.”
“Di solito le decisioni radicali si prendono per sé, non per due.
Vorrei che qualcuno mi consigliasse, che mi dicesse: tra dieci anni, tuo figlio sarà felice di possedere questo. Tra vent’anni, avrai bisogno di quello. Tra cinquanta, ti piacerà guardare quell’oggetto.
E invece devo farlo da solo. Per poi assumermi la responsabilità delle mie scelte.
Fissare l’amore di una vita intera nell’istante in cui si è spezzato. Poi scomporlo in immagini e in istanti. Sistemarlo, classificarlo per farlo stare in tante scatoline, dove possa rivivere.
Fare posto a loro, a lei, immaginare lo spazio tutto intero, respirando l’esistente scomparso, il continente inghiottito.
Non sono attaccato alle cose, la proprietà mi lascia indifferente e trovo i beni ingombranti. Da sempre, non accumulo, non colleziono, non metto da parte patrimoni. Tento di scrivere una storia.”
Source: La Vie, après
“Di solito non ho la sensazione di esistere. Ho l'impressione che una folata di vento possa spazzarmi via, facendomi scomparire per sempre, senza lasciare di me neppure un frammento di unghia. In certi giorni il pensiero mi pare rassicurante, in certi altri mi raggela.
La sensazione di inconsistenza deriva, suppongo, dal fatto che so così poco del mio passato, o se non altro questa è la conclusione a cui arrivati gli strizzacervelli all'ospedale.”
Source: Sharp Objects
“Di solito non parlo con gli sconosciuti. Non mi piace parlare con chi non conosco. E non per via della famosa frasa Non Dare Confidenza Agli Sconosciuti che ci ripetono continuamente a scuola, che tradotto vuol dire non accettare caramelle o un passaggio da uno sconosciuto perché vuole fare sesso con te. Non è questo che mi preoccupa. Se un estraneo mi toccassse lo colpirei immediatamente, e io so colpire molto forte. Come per esempio quella volta che ho preso a pugni Sarah perché mi aveva tirato i capelli e l’ho fatta svenire e le è venuta una commozione cerebrale e avevano dovuto portarla al pronto soccorso. E poi ho sempre con me il mio coltellino svizzero che ha una lama a seghetto in grado di tranciare le dita a un uomo.
Non mi piacciono gli estranei perché non mi piacciono le persone che non conosco. Sono difficili da capire. È come essere in Francia, dove andavamo qualche volta in campeggio quando mio madre era ancora viva. E io odiavo la Francia perché se entravo in un negozio o in un ristorante o andavo in spiaggia non capivo quel che dicevano, e la cosa mi terrorizzava.
Ci metto un sacco di tempo per abituarmi alle persone che non conosco. Per esempio, quando c’è una persona nuova che viene a lavorare a scuola non le parlo per settimane e settimane. Rimango a osservarla finché non sono certo di potermi fidare. Poi le faccio delle domande su di lei, sulla sua vita, del tipo se ha degli animali e qual è il suo colore preferito e cosa sa dell’Apollo e le chiedo di disegnarmi una piantina della sua casa e voglio sapere che macchina ha, così imparo a conoscerla. Da quel momento in poi non mi preoccupo più se mi capita di trovarmi nella stessa stanza con questa persona e non sono più obbligato a stare all’erta.”
Source: The Curious Incident of the Dog in the Night-Time
“Di solito, più si sente la necessità di parlare degli ideali della democrazia, meno democratico è il sistema.”
Source: Dis-educazione
“Di Stéfano was one of the greatest footballers ever. He had such great balance.”
“Di suatu kedai ia pernah melihat orang-orang berdebat dan menghujat, akhirnya saling bunuh-bunuhan. Padahal semuanya berdebat atas dasar yang lemah, sehingga tidak tahu bahwa antara mereka sebetulnya tidak ada perbedaan pendapat, hanya perbedaan selera.”
Source: Kitab Omong Kosong
“Di taman itu, bau laut tertutupi aroma daun-daun yang gugur dan mati. Kalian tahu, kematian selalu membuatku memikirkan Kesepian. Ketika Nenek mati, aku merasa ribuan Kesepian mendatangi pemakaman. Satu per satu dari mereka meminta untuk menumpang di rumahku, tidur di tempat tidurku. Ketika aku melarang, mereka justru menentang. Mereka kemudian mengambil alih singgasana secara paksa. Bertahun-tahun mereka menguasai rumahku. Sampai akhirnya aku lari ke sini.
Namun, dengan orang ini aku tahu Kesepian akan segera memerah, menguning, mencokelat, dan akhirnya tanggal pelan-pelan, seperti daun-daun. Mungkin aku tak akan bertemu para Kesepian itu lagi. Mungkin angin akan membawa mereka terbang jauh. Mungkin juga jauh sekali. Semoga mereka tidak mendarat di halaman rumah seseorang yang sebatang kara. Semoga.”
Source: Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu
“Di tanto in tanto la folla innalzava un applauso: l'applauso dell'oppresso riconoscente.”
Source: Dubliners
“Di tempat lain, lo mungkin dianggap liar. Tapi di sini, lo dianggap saudara. Tradisi Skate bukan sekadar komunitas, ini tempat lo boleh salah, boleh jatuh, asal lo bangkit dan naik lagi. Gak ada kasta, gak ada kelas. Yang penting lo mau jalan bareng. Mau belajar bareng. Karena di dunia kami, semua berawal dari satu hal: keberanian berdiri di atas papan, dan terus jalan meski dihina atau gagal. Itu baru... sudah tradisi.”
“Di tempat paling dingin sekalipun... selalu ada cerita hangat,”
Source: Eldar: Violin & Negeri Salju Abadi
“Di tengah kepungan teknologi dan hiburan instan, membaca buku adalah suatu kegiatan revolusioner. Kebanyakan orang lebih memilih mengisi waktu luangnya dengan liburan, karaokean, nonton, kuliner, belanja dan lain sebagainya.
Buku itu seperti oli untuk otak, memperlancar kerjanya. Dan seperti amplas untuk hati, menyeka karatnya.”
“Di tutta la vita che si è vissuta e si vivrà - a saper aspettare, e prima che tutto si dissolva - si incontra il racconto, in attimi speciali, sulla propria strada”
Source: Abel
“Di Ujung Kanvas, Para Malaikat Jatuh seperti Cermin Retak
Pada hari ketika langit meniru sapuan kuas Dali,
aku melihat tiga angsa menari di telaga yang tidak pernah ada.
Tapi bayangan mereka menjelma jadi sekawanan gajah—
yang memikul menara-menara mimpi
yang kaki-kakinya memanjang seperti doa yang tak sampai.
Di sana, waktu tidak berjalan.
Ia tergantung seperti jam yang mencair,
mengalir dari dinding kesadaranku
menuju lubang kelam
tempat malaikat dan iblis berdesakan
mempertengkarkan siapa yang lebih dahulu menciptakan cahaya.
Serafim mencabut bulunya sendiri
dan bulu itu berubah menjadi ular
yang menyebut dirinya dengan seribu nama:
Ashmedai, Azazel, Ashtaroth—
nama-nama yang dahulu kupelajari dengan rasa takut,
namun kini bayangan itu datang kepadaku
seperti bisikan seorang kawan lama yang ingin dipanggil pulang.
Aku bertanya padanya:
“Apakah kita sedang bermimpi,
atau kita hanyalah mimpi yang sedang diingatkan kembali kepada dirinya sendiri?”
Bayanganku menjawab
dengan suara yang bukan suaraku:
“Di sinilah eros dan tanathos menari.
Di sinilah kelahiran selalu meminjam wajah kematian.”
Dalam jeda itu,
seekor harimau melompat keluar dari rahim buah delima
yang meletus seperti planet kecil penuh kutukan.
Dari balik taringnya,
aku melihat wajahku sendiri—
wajah yang telah lama ditinggalkan oleh logika.
Dan ketika seekor badak berkaki laba-laba
melintas di atas kepalaku,
aku menyadari bahwa tuhan mungkin sedang tertidur,
dan iblis sedang melukis-nya kembali
dengan warna-warna yang terlalu jujur untuk kita mengerti.
Malaikat-malaikat yang jatuh itu
menabrak permukaan telaga,
menjadi riak yang memanggil masa laluku keluar dari persembunyian.
Aku mencoba menyentuhnya,
namun jari-jari tangan ini berlubang
seperti relik yang kehilangan alasan untuk diselamatkan.
“Apa yang kau cari?”
tanya seekor gajah yang muncul di tengah mimpi
dengan mata penuh kesedihan purba.
Aku tidak menjawab.
Sebab seluruh jawabanku
terbakar dalam pusat matahari
yang ternyata bukan matahari,
melainkan luka yang sedang berevolusi.
Dan ketika akhirnya cahaya itu meledak,
aku melihat diriku sendiri
—telanjang, kehilangan nama—
dilahirkan dari pertempuran yang tak pernah kuceritakan kepada siapa pun.
Aku bukan lagi penyair.
Aku bukan lagi kilasan mimpi.
Aku hanyalah kesadaran yang menetas
dari absurditas
yang membunuh egoku berulang kali
agar aku bisa melihat dengan mata yang tidak lagi meminta
untuk dimengerti.
November 2025”
“di ujung mulut takdir,
tersentak keyakinan ku goyah
akan suatu masa yang mulai tampak mendekat,
bersama angin yang menghantar bimbang ini
aku bertanya padamu, duduk kah engkau di senja itu sambil menggores hidup di atas kertas???”
“Di una cosa sono certa: i desideri generano solo altri desideri. Non c’è fine al desiderio”
Source: Everything, Everything
“Di we ever really know what we will do in any situation until the situation presents itself?”
Source: Stay with Me
“Dia adalah segalanya bagiku. Apa pun yang datang darinya adalah satu satunya sumber kebahagiaanku. Tak ada yang dapat merenggutnya dariku. Bahkan maut sekalipun tak akan mampu memisahkan jiwa kami.
- Harsimran Tapasvi, Tawanan Kepedihan”
“Dia adalah tipe ayah yang akan memberikan apa pun yang kuminta karena ia tidak tahu apa yang sebenarnya kubutuhkan.”
Source: Queen: Ingin Sekali Aku Berkata Tidak
“Dia (agama) memiliki jiwa yang akan melapangkan jiwa Anda. Itulah yang disebut fitarh., dan tidak ada seorang pun yang sanggup membunuh fitrah manusia. Agama itu bukan tradisi, yang bisa saja mati jika diperangi. Sedangkan agama, tidak mungkin lenyap. Sebab, dia bukan adat, melainkan fitrah.”
Source: Fıtrat
“Dia belum pernah mendengar ayat yang sering didengarnya itu dikupas dari sudut pandang ini.”
Source: Gus
“dia cukup muda untuk awas melihat apa yang ada di depan matanya, tapi dia terlalu muda untuk bisa menebak apa yang ada di balik pemandangan yang tampak itu”
Source: Matahari Mata Hati
“Dia de chuva
As ideias passam
Nunca sai aquele poema
Esse bloqueio é um dilema”
Source: Série Cortes: Uma história sobre música.: O primeiro conto da Antologia Contos Sobre a Morte.
“Dia directed her grudge towards that book, which only provided a modest explanation.
For some reason, it was always like that. Things always didn’t work out—
—and here she thought she would finally be able to impress Noin…”
Source: 長い夜の国と最後の舞踏会 1 ~ひとりぼっちの公爵令嬢と真夜中の精霊~
“Dia feliz ou triste, um sorriso que nada custa para mudar o mundo e alegrar o coração do desconhecido.”
Source: AVENTURAS? Por que não?: Conversas sobre espiritualidade.
“Dia had lived her entire life without touching what shouldn’t be touched.
The thought that in some cases, it might shed a lot of blood stirred Dia’s heart.
However, this cold man, who always deemed everything human-related as ‘troublesome’, for the sake of enabling her to live to her utmost and survive, touched a lot of inconvenient things without ever mentioning any of them.”
Source: 長い夜の国と最後の舞踏会 1 ~ひとりぼっちの公爵令嬢と真夜中の精霊~
“Dia lelah untuk menangis. Dia lelah untuk merasa sakit. Dia lelah merasa kehilangan.”
Source: The Girl who Waits in the Bridge
“Dia luntang-lantung karena setiap jengkal ruang di alam semesta baginya panas dan dia tahu dia tidak akan menemukan tempat yang teduh, apalagi yang aman dan damai.”
Source: Olenka
“Dia mau dijodohkan oleh guru pondoknya. Agar suatu saat, dia bisa mengajar bersama dipondok abi-nya tersebut. Apa daya diri yang berandalan ini, yang terlalu tinggi berharap, sampai kakinya lupa terpijak.”
“Dia membuka mulutnya dan menekankan lidahnya masuk ke mulut Jean-Marc, penuh semangat menjilat apa pun yang ditemukannya di dalam situ. Kegigihan lidah-lidah mereka ini bukan kebutuhan sensual melainkan desakan kebutuhan untuk saling mengabarkan bahwa keduanya siap main cinta, segera, saat itu juga, tuntas dan liar tanpa kehilangan waktu sedetik pun saja. Lidah-lidah mereka tidak ada kaitannya dengan nafsu atau kesenangan, lidah-lidah itu adalah bentara, wartawan-wartawati. Kedua orang itu tidak ada yang punya keberanian untuk mengucapkan dengan lugas dan keras, "Aku ingin bersetubuh denganmu, sekarang juga, tanpa ditunda," maka mereka suruh lidah-lidah mereka jadi juru bicara.”
Source: Identity
“Dia membutuhkanku sebagai teman dalam kesepian dan pemberi pelukan di antara kepenatan kerjanya”
Source: Just in Love
“Dia mencintai tidak cuma dengan hati. Tapi seluruh jiwanya. Bukan basa-basi surat cinta, tidak cuma rayuan gombal, tapi fakta. Dia cinta kamu tanpa pilihan. Seumur hidupnya.”
Source: Rectoverso
“Dia.”
“…Noin?”
“Is there something that you need to say to me?”
“…”
It was a total surprise.
Dia took a small breath and looked back at his purple eyes.
It was exactly because of her beloved person that she felt a feverish and painful mass in her chest, and also trembled in fear and sadness.
“…Just tell me when you’re ready. I’ll be patient if you can’t say it now, but not for long. Besides, I have no desire of releasing you. There are many things I can do for you, but you’re aware there are many things you’re unable to do by yourself, right?”
“Noin, for I am a very cunning human, I can’t say anything about it because I’m afraid of being abandoned by you if I revealed it… even so, you realized that I was worried about something…”
After listening to Dia, Noin sighed slightly before lifting Dia onto his lap.
The feeling of his chest against her back made her fear that her heart would spill out. His warmth gradually seeped into her.
“You don’t have to go anywhere. I told you, that’s the price.”
Source: 長い夜の国と最後の舞踏会 1 ~ひとりぼっちの公爵令嬢と真夜中の精霊~
“Dia putuskan,seorg gadis yg berkali-kali mematahkan hatinya krn bermain api dg pria lain hrs dilupakn”
Source: Lelaki Pertama
“Dia selalu memberikan yang baik, hanya saja kadang dari sudut pandang kita itu buruk" - Kumpulan Cerita Pendek Mama Rice”
“Dia seperti burung merak yang memekarkan seluruh ekornya dan aku tidak dapat memindahkan mataku darinya. Aku bahkan tidak dapat menutup sunggingan senyum dari wajahku.”
Source: Blue Vino
“Dia tahu, bahawa sultan dan pembesar negeri Melaka itu sudah maklum sejak tahun 1448, pasti Portugis akan datang kembali menyerang! Tetapi kenapa Melaka hanya sibuk menyediakan damak untuk racun pada anak panahnya, tetapi tidak menyediakan timah, untuk 38 pucuk meriam besarnya yang dibeli dari Turki? Kenapa Melaka mampu berbelanja untuk dayang-dayang istana, sultan dan pembesar negeri berlebihan waktu dan tenaga untuk menggiliri selir, tetapi tidak berbelanja membina armada? Kenapa Melaka begitu mudah beri gelar laksamana kepada pendekar silat, tetapi tidak membina kekuatan daya tempur angkatan laut?”
Source: Rindu Aroma Padi Bunting