K Quotes
Browse famous quotes beginning with K. This page is a child index of the full Popular Quotes A-Z directory.
“KAMAR MAYAT KATA-KATA
Aku membuka dadaku
seperti Sylvia membuka oven
tempat ia hendak membakar dirinya:
tanpa upacara,
tanpa metafora,
tanpa perhiasan bahasa
yang berusaha menutupi bau tubuh
yang sudah terlalu lama membusuk.
Inilah luka yang tidak berkafan.
Aku menulis bukan untuk sembuh—
hanya memastikan, rasa sakit itu
benar-benar nyata,
ia tidak bersembunyi
di balik diksi yang manis,
goresan pisau yang tidak menyamar sebagai harapan
demi membuat dunia merasa nyaman.
Nyaman adalah kebohongan.
Aku ingin mereka melihat
bagaimana kata-kata itu bergetar
di bawah ketiadaan cahaya,
bagaimana kenyataan menyeret dirinya melewati undakan tangga,
memecahkan cermin,
meretakkan rahang kesadaran,
mencabuti kuku-kuku yang tersisa
dari ibu jari batin.
Ini bukan kamar
hotel mewah.
Ini kamar mayat
tempat jasad puisi
diotopsi.
Setiap kata yang kau baca
adalah organ yang baru dipotong:
masih hangat,
masih berdarah,
masih membawa jejak ketakutan terakhirnya.
Aku meletakkannya di atas
nampan logam
tanpa penutup,
tanpa formalin,
tanpa doa.
Lihatlah: — ketakutan yang dikikis sampai tersisa tulang
— kemarahan yang dipaksa menelan lidahnya sendiri
— rasa bersalah yang dipakukan ke dinding
— harapan yang dibakar hingga tak berbentuk.
Ini bukan metafora,
ini pembersihan.
Penyembelihan kasar.
Eksorsisme penuh sadar.
Aku akan mengulang ritual Sylvia menulis dengan pisau;
biar aku tajamkan pisaunya
dan memasukannya lebih dalam.
Aku tidak mencari atribut indah.
Keindahan hanya membuat
luka terasa sopan.
Aku ingin luka ini menatapmu
tanpa kulit,
tanpa nama,
tanpa riasan.
Karena hanya ketika tubuh bahasa dikeluarkan dari kulitnya,
barulah kebenaran berdiri
tanpa takut, tanpa gemetar.
Maka inilah kebenaran itu:
bahwa aku telah menghabiskan hidup
menjadi aktor dalam drama
rasa sakitku sendiri,
mengecat wajahku dengan metafora
agar tampak seperti seni,
padahal aku hanyalah manusia
yang tidak pernah selesai melawan hegemoni teror sendiri.
Hari ini aku mengakhiri sandiwara itu
menanggalkan semua ornamen.
membiarkan yang tersisa
hanya daging mentah
yang masih berdarah.
Dan jika kau merasa ngeri,
bagus!
Rasa ngeri adalah bukti
bahwa kau masih hidup.
Inilah tandanya:
ruang putih,
dingin besi,
bau anyir logam,
kesunyian yang menyalak,
jiwa yang dibaringkan
telanjang
tanpa penutup,
tanpa belas kasihan,
tanpa penjelasan.
Tubuh remuk puisi
yang tidak menuntut dipahami
hanya menuntut jujur.
Karena kadang,
satu-satunya cara
untuk tetap hidup
adalah membiarkan
sebagian dari dirimu mati
di atas halaman kertas kosong
tanpa tulisan.
November 2025”
“Kamaran Ihsan Salih’s quote **“Respect the dignity of others no matter how strong you are”** expresses a deep moral and philosophical stance on power, humanity, and self-control.
### 1. Strength is a test, not a privilege
In Kamaran Ihsan Salih’s vision, **strength—whether physical, intellectual, social, political, or financial—is not a license to dominate**, but a responsibility to protect dignity.
The quote reminds us that real strength is revealed **when one has the ability to harm, yet chooses not to**.
### 2. Dignity is universal, not conditional
The dignity of others does not depend on:
* their weakness or strength,
* their agreement with you,
* their social status or usefulness.
Kamaran emphasizes that **human dignity is intrinsic**. To violate it because you are stronger is to betray your own humanity.
### 3. Power without ethics becomes tyranny
The quote is also a warning:
When strength is separated from moral values, it turns into oppression.
Kamaran often stresses that **the most dangerous people are not the weak, but the strong who lack conscience**.
Thus, respecting dignity is what separates:
* leadership from domination,
* authority from arrogance,
* power from cruelty.
### 4. Inner strength vs. outer strength
According to Kamaran Ihsan Salih:
* **Outer strength** can force silence.
* **Inner strength** preserves dignity—yours and others’.
Respecting others, especially when you are stronger, is proof of emotional intelligence, wisdom, and spiritual maturity.
### 5. A mirror of self-respect
By honoring the dignity of others, you affirm your own worth.
Humiliating or degrading others may show power, but it exposes inner weakness and fear.
### Conclusion
In Kamaran Ihsan Salih’s philosophy,
**“Respect the dignity of others no matter how strong you are”** teaches that the highest form of strength is **ethical restraint**.
True greatness lies not in how much power you possess, but in how humanely you use it.”
“Kamaswami conducted his business with care and often with passion, but Siddhartha looked upon all of this as if it was a game, the rules of which he tried hard to learn precisely, but the contents of which did not touch his heart.”
“kambakht is hasrat ne sarhad pe la khada kiya.... warna kal fursat bhi thi aur raste ki aawargi bhi...”
“Kamby Bolongo Mean River is an original and fearless fiction. It bears genetic traces of Beckett and Stein, but Robert Lopez's powerful cadences and bleak, joyful wit are all his own.”
“Kamdev +91 9983428959 Vashikaran Specialist Baba Ji Iaaaaa”
“Kamdev +91 9983428959 Vashikaran Specialist Baba Ji Ibbbbb”
“Kamdev +91 9983428959 Vashikaran Specialist Baba Ji Immmmm”
“Kamdev +91 9983428959 Vashikaran Specialist Baba Ji In Jaipur”
“Kamdev +91 9983428959 Vashikaran Specialist Baba Ji In Punjab”
“Kamdev +91 9983428959 Vashikaran Specialist Baba Ji Innnn”
“Kame-chan I honestly believed that being the top of the team meant that I would have the most fun. I had my eyes on the treasure chest on top of the mountain and I was eager to take it. I thought that having the treasure to myself meant that I would be freer than anyone else.
I was so excited imagining what could happen once I opened the chest. But once the box opened there was... nothing inside. I didn't feel anything at all. I was scared... I felt like I was hollowed out. I didn't know where I should go next. I felt nothing, no matter what I did. Everything became meaningless. I had to do something... I knew that this wasn't right. While I struggled, struggled, and struggled... I eventually couldn't see anything anymore. And I blamed it all on everyone else.”
Source: Wind Breaker 4
“Kamera haidanganyi – kujipodoa muhimu.”
“Kamera ina athari kubwa sana katika maisha yetu. Inaweza kuharibu taswira ya mtu mbele ya jamii, na inaweza kuharibu maisha ya mtu hali kadhalika. Wasanii wakubwa duniani hawatoki ndani bila ya kuwa nadhifu au bila ya kujipodoa. Kwa nini? Kwa sababu ya wasanii wao wa vipodozi. Wasanii wao wa vipodozi hawataki waajiri wao wawe na taswira mbaya mbele ya wateja wao ambayo ni jamii. Kuwa na taswira mbaya mbele ya jamii kunaweza kusababisha wao (wasanii wa vipodozi) pamoja na waajiri wao, wasiishi vizuri hapa duniani kama wanavyotaka. Kioo ni kitu au mtu. Kama huna uwezo wa kumiliki vipodozi, miliki kioo. Kama huna uwezo wa kumiliki kioo, miliki rafiki. Kioo (hasa kitu) hakina unafiki. Usitoke ndani bila kuridhika na taswira yako.”
“Kamera šeće po tribinama, upija atmosferu prije utakmice. I onda uhvate u kadar moju Emu! Gleda u daljinu i jede sendvič s bezbrižnošću kakvu samo dijete može imati.”
Source: Moja igra
“Kamerad, ich wollte dich nicht töten. Sprängst du noch einmal hier hinein, ich täte es nicht, wenn auch du vernünftig wärest. Aber du warst mir vorher nur ein Gedanke, eine Kombination, die in meinem Gehirn lebte und einen Entschluß hervorrief - diese Kombination habe ich erstochen. Ich habe gedacht an deine Handgranaten, an dein Bajonett und deine Waffen - jetzt sehe ich deine Frau und dein Gesicht und das Gemeinsame. Vergib mir, Kamerad! Wir sehen es immer zu spät. Warum sagt man uns nicht immer wieder, daß ihr ebenso arme Hunde seid wie wir, daß eure Mütter sich ebenso ängstigen wie unsere und daß wir die gleiche Furch vor dem Tode haben und das gleiche Sterben und den gleichen Schmerz -. Vergib mir, Kamerad, wie konntest du mein Feind sein.”
Source: Im Westen nichts Neues
“Kameranın görevi anıları yakalamaktır,
Ama kamera anıların düşmanı oldu.
Anıları yakalama çılgınlığında,
Biz anılar yaratmayı unuttuk”
Source: Yüz Şiirlerin Yüzüğü
“Kami adalah anak manusia biasa, sangat biasa, campuran antara jahat dan baik, seperti jutaan anak yang lain. Boleh jadi pada saat ini dalam diri kami terdapat lebih banyak yang baik daripada yang jahat, tetapi sebabnya tidak perlu dicari lebih jauh. Orang yang hidup dalam lingkungan yang sederhana, tidak sukar untuk menjadi baik; seolah-olah dengan sendirinya dia akan menjadi baik. Sama sekali bukan hikmat, bukan suatu jasa untuk tidak berbuat jahat; apabila tidak terbuka kesempatan bagi kita untuk berbuat demikian. Kelak apabila kami telah meninggalkan sarang orang tua yang hangat dan aman; berdiri dalam kehidupan manusia sepenuhnya; di situ tidak ada lagi tangan orang tua yang setia memeluk kami. Jika di sekeliling hidup kami angin ribut mengamuk dengan garang, tidak ada tangan yang penuh cinta menopang dan memegang kami. Jika kaki kami goyang, barulah pertama-tama akan nyata, apa sebenarnya kami ini.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami akan menggoncangkannya, Ibu sayangm dengan segala kekuatan walaupun yang akan runtuh hanya satu butir batu saja. Maka kami akan merasa bahwa hidup kami tidak sia-sia.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami anak-anak perempuan tidak boleh mempunyai pendapat, kami harus menerima dan menyetujui serta mengamini semua yang dianggap baik oleh orang lain.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami baru pulang dari tanah kuburan
yang menanam kampung kami.”
Source: Arca Impian
“Kami bersekolah, tetapi kami tidak boleh berpikir dengan cara kami sendiri. Kami tidak berbicara dalam bahasa kami, kami tidak mempelajari sejarah kami sendiri, dan kami tidak mungkin mengungkapkan pendirian dan cita-cita kami, karena setiap kali hal itu dilakukan, selalu ada yang ditangkap, disiksa, dan masuk bui tanpa diadili.”
Source: Saksi Mata
“Kami betul-betul hndak memberontak apabila berulang kali kami ditindas. Mengapa kami harus surut kembali? Mengapa kami harus disurutkan, ditahan-tahan? Hanya karena mulut usil orang banyak yang picik pandangannya dan berjiwa kerdil.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami bukan dari arena licin atau parkir berbayar. Kami lahir dari jalanan, dari trotoar yang retak, dari aspal panas yang nyakitin lutut. Setiap luka, setiap gagal, setiap jatuh — adalah bagian dari proses. Skateboard bukan sekadar hobi. Ini cara kami bertahan. Cara kami bicara tanpa kata. Karena buat kami, papan ini bukan alat mainan. Ini simbol kebebasan. Dan kebebasan itu... sudah tradisi.”
“Kami drew in a slow shuddering breath, and reached out for comfort where she could always find it. I can hear him coming back, she told Jared. I'm scared.
Don't be scared, Jared told her. He won't touch you. I'm coming, and I'm going to kill him.”
Source: Unspoken
“Kami got to school the next day without any incidents like being kidnapped by pirates or having the earth open up and swallow her, which on the whole Kami thought was a pity.”
Source: Unspoken
“Kami hanya akan hidup untuk diri kami sendiri, sedang kami ingin hidup untuk masyarakat, mengabdikan diri sama sekali kepadanya.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami harus mencari semua bagian yang terang. Apabila tidak ada, maka yang gelap itu agak digosok. Itulah seninya agar dapat hidup dengan gembira, bukan?”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami ini hanya manusia biasa, sangat biasa, campuran dari unsur-unsur jelek dan baik seperti berjuta-juta orang lain. Mungkin juga pada kami terdapat lebih banyak unsur baik daripada jelek, tapi sebabnya sederhana saja. Bilamana orang hidup dalam lingkungan sederhana adalah mudah untuk menjadi baik. Orang dengan sendirinya menjadi baik - Kartini”
Source: Catatan Perjalanan Tur Kartini
“Kami manusia, seperti halnya orang laki-laki. Aduh, berilah izin untuk membuktikannya. Lepaskan belenggu saya! Izinkan saya berbuat dan saya akan menunjukkan, bahwa saya manusia. Manusia seperti laki-laki.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami memang belum mampu bicara banyak di sepakbola. Namun atlit kami kami berhasil meraih podium tertinggi di event bulutangkis tertua di dunia,” sahutku bangga menahan air mata yang tinggal menunggu waktu untuk pecah.
Merah putih pun berkibar dengan gagahnya beriring kumandang Indonesia Raya.
(I am an Indonesian and I am proud, Dunia Tanpa Huruf R)”
Source: Dunia Tanpa Huruf R
“Kami memanggilnya cahaya agung. Bukan kerana ia rahmat. Malah menjengkelkan mungkin. Kerana kami tidak akan boleh lari daripadanya dan sinar terik itu telah menghitamkan kami, anak kampung Morten.”
“Kami mengira kami tahu banyak sekali tapi sesungguhnya kami tidak tahu apa-apa. Kami mengira kami mempunyai kemauan, kemauan besi. Kami mengira kami dapat memindahkan gunung tetapi nyatanya hanya setitik air mata pedih, sekejap pandangan mata duka cita dari mata yang kami sayangi dan patahlah kekuatan kami.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami sadar dalam mendidik selalu ada campur tangan Tuhan, sehingga kami tidak bisa sombong. Sebagaimana anak yang punya fitrah atau potensi yang sudah ada sejak lahir, orangtua juga punya fitrah atau potensi alami yang diberikan Tuhan untuk mendidik. Tazkiyatun Nafs atau menyucikan jiwa dengan cara ibadah, beramal saleh, mencari ilmu, atau tirakat adalah usaha agar jiwa bening hingga mampu membaca petunjuk Ilahi untuk menumbuhkembangkan potensi mendidik tersebut, selain juga berguna untuk semacam clear chace kotoran-kotoran pengalaman masa lalu yang buruk sehingga performa aplikasi pendidikan dalam jiwa lebih optimal.”
Source: Pendidikan Keluarga Kami
“Kami said, "I want you to go in there and vamp that receptionist." "What?" Ash said blankly. "You know," Kami said. "Dazzle her with your charms. Rock her world. Go on." [...] "What," Ash said, "all of us?" "Do you want to stand around trying to guess if she likes pretty boys or rough trade?" Jared asked, gesturing lazily from Ash to himself. "Excuse me, what did you just call yourself?" Ash demanded. "No, wait a second, I don't care. What did you just call me?”
“Kami yakin, apabila seseorang berani memulai, banyak yang akan mengikuti.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami'd always retold her fairy tales to make the fair maidens braver and more self-sufficient, but she had never had any real objection to the handsome prince.”
Source: Unspoken
“Kamilah ibu para yatim. Kamilah ibu para piatu. Kamilah ibu mereka yang menderita. Kami ibu dari semua jejak yang membekas di tanah ini!”
Source: Tanah Perempuan
“Kamimura has been whispering all week of a sacred twenty-four-hour ramen spot located on a two-lane highway in Kurume where truckers go for the taste of true ramen. The shop is massive by ramen standards, big enough to fit a few trucks along with those drivers, and in the midafternoon a loose assortment of castaways and road warriors sit slurping their noodles. Near the entrance a thick, sweaty cauldron boils so aggressively that a haze of pork fat hangs over the kitchen like waterfall mist.
While few are audacious enough to claim ramen is healthy, tonkotsu enthusiasts love to point out that the collagen in pork bones is great for the skin. "Look at their faces!" says Kamimura. "They're almost seventy years old and not a wrinkle! That's the collagen. Where there is tonkotsu, there is rarely a wrinkle."
He's right: the woman wears a faded purple bandana and sad, sunken eyes, but even then she doesn't look a day over fifty. She's stirring a massive cauldron of broth, and I ask her how long it's been simmering for.
"Sixty years," she says flatly.
This isn't hyperbole, not exactly. Kurume treats tonkotsu like a French country baker treats a sourdough starter- feeding it, regenerating, keeping some small fraction of the original soup alive in perpetuity. Old bones out, new bones in, but the base never changes. The mother of all ramen.
Maruboshi Ramen opened in 1958, and you can taste every one of those years in the simple bowl they serve. There is no fancy tare, no double broth, no secret spice or unexpected toppings: just pork bones, noodles, and three generations of constant simmering.
The flavor is pig in its purest form, a milky broth with no aromatics or condiments to mitigate the purity of its porcine essence.”
Source: Rice, Noodle, Fish: Deep Travels Through Japan's Food Culture
“Kamishna … karibu," alisema Nafi huku akisimama na kutupa gazeti mezani na kuchukua karatasi ya faksi, iliyotumwa.
"Ahsante. Kuna nini …"
"Kamishna, imekuja faksi kutoka Oslo kama nilivyokueleza – katika simu. Inakutaka haraka, kesho, lazima kesho, kuwahi kikao Alhamisi mjini Copenhagen," alisema Nafi huku akimpa kamishna karatasi ya faksi.
"Mjini Copenhagen!" alisema kamishna kwa kutoamini.
"Ndiyo, kamishna … Sidhani kama kuna jambo la hatari lakini."
"Nafi, nini kimetokea!"
"Kamishna … sijui. Kwa kweli sijui. Ilipofika, hii faksi, kitu cha kwanza niliongea na watu wa WIS kupata uthibitisho wao. Nao hawajui. Huenda ni mauaji ya jana ya Meksiko. Hii ni siri kubwa ya tume kamishna, na ndiyo maana Oslo wakaingilia kati."
"Ndiyo. Kila mtu ameyasikia mauaji ya Meksiko. Ni mabaya. Kinachonishangaza ni kwamba, jana niliongea na makamu … kuhusu mabadiliko ya katiba ya WODEA. Hakunambia chochote kuhusu mkutano wa kesho!"
"Kamishna, nakusihi kuwa makini. Dalili zinaonyesha hali si nzuri hata kidogo. Hawa ni wadhalimu tu … wa madawa ya kulevya."
"Vyema!" alijibu kamishna kwa jeuri na hasira. Halafu akaendelea, "Kuna cha ziada?"
"Ijumaa, kama tulivyoongea wiki iliyopita, nasafiri kwenda Afrika Kusini."
"Kikao kinafanyika Alhamisi, Nafi, huwezi kusafiri Ijumaa …"
"Binti yangu atafukuzwa shule, kam …"
"Nafi, ongea na chuo … wambie umepata dharura utaondoka Jumatatu; utawaona Jumanne … Fuata maadili ya kazi tafadhali. Safari yako si muhimu hivyo kulinganisha na tume!"
"Sawa! Profesa. Niwie radhi, nimekuelewa, samahani sana. Samahani sana.”
Source: Kolonia Santita
“Kammy could see the palace built into the cliff face. It was a majestic construction. Its white walls stretched up into a cluster of turrets and towers. Its façade was broken by gigantic windows that reflected a rainbow of colours. The palace was flanked by two waterfalls that filled the chasm running far below them; a chasm that was bridged by a staircase of monstrous size. But Kammy hardly noticed how far she would fall should her grip fail. The giant structure that speared out of the palace and up into the sky commanded all of her attention. It burned her eyes so she could hardly look at it, but at the same time she could not look away. It looked like a white diamond. Each of its countless edges sent off shards of brilliant light. It dwarfed anything that Kammy had ever known and she had never felt as alive as she did in that moment.”
Source: The Wolf's Cry
“Kammy jerked upright. It was as though the trees had parted beneath the pressure of the storm and a bolt of lightning had struck her. She had never entered the mouth for it had always been much too small. Yet, she had never seen anything else enter it either. The thought alone made her feel sick with excitement and fear. A small voice told Kammy that such a reaction was ridiculous, it was just a squirrel. But warmth spread to the tips of Kammy’s fingers as they stretched forward. She could see now that it was not a burrow at all, but a tunnel large enough for her to fit through. She was quite sure that she would not even have to bend her head. The same small voice tried to speak again but Kammy could not hear it through the rush of blood in her ears.
Kammy stepped inside the mouth of the forest and felt herself flipped upside down.”
Source: The Wolf's Cry
“Kamo god da ideš, s tobom ide i tvoj anđeo čuvar. Prije nego što se spremaš nekamo ići, razmisli je li to mjesto prikladno za jednoga anđela.”
Source: Angels (and Demons): What Do We Really Know About Them?
“Kampen är inte över förrän den sista tårdroppen är utplånad.”
Source: Gente Mente Adelante: Prejudice Conquered is World Conquered
“Kampsu on aasi, hän ajatteli. Hömppä rouva, joka ei osaa ajatella muuta kuin teekakkuja ja tyynynpäällisiä. Hän ei ymmärrä edes mitään kukista. Ja kaikkein vähiten hän ymmärtää minua. Nyt hän istuu kotonaan ja luulee, etten minä ole koskaan kokenut mitään. Minähän koen jokapäivä maailmanlopun ja kuitenkin pukeudun ja riisuudun ja syön ja pesen asioita ja pidän teekutsuja aivan kuin ei mitään olisi tapahtunut!”
“kampungku Sukasari padat penghuni
tak pernah sepi, tak pernah mati”
Source: Surat-Surat dari Kota
“Kamu adalah awan yang kupandangi semalaman, yang subuh ini menjelma embun di dedaunan, yang datang padaku lewat rintik-rintik hujan.”
“Kamu akan menarik gas kendaraan dengan pasti saat punya destinasi, seperti kamu akan lebih percaya diri melangkah saat memiliki sebuah mimpi.”
Source: Confidence in You
“Kamu anak sulung. Musti menjadi penerus pesantren keluarga ini”
Source: BANU Pewaris Trah Pesantren
“Kamu bener-bener selalu ngedapetin apa yang kamu mau ya?" | "Nggak semuanya. Karena aku belum memiliki kamu lagi." - Good Fight”